Tampilkan postingan dengan label Fundamental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fundamental. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 September 2017

Cara Prediksi Rilis CPI Inflation

Cara Prediksi Rilis CPI Inflation

Di negara maju tingkat inflasi bisa dianggap sebagai daya beli konsumen. Selain Naiknya harga harga disebabkan oleh banyak sedikitnya permintaan harga juga barang dan jasa juga bisa dipengaruhi oleh kurs mata uang negara tersebut, sehingga nantinya akan pengaruhi daya beli konsumen. Simple nya harga barang dan jasa turun biasanya akan menaikkan daya beli dan sebaliknya jika harga barang dan jasa naik biasanya akan menurunkan daya beli konsumen. 

Di kesempatan ini saya akan share bagaimana prediksi perkiraan hasil rilis CPI atau inflasi dengan menggunakan pergerakan kurs. 

Pergerakan kurs yang kita analisa adalah pergerakan sejak terakhir rilis CPI sampai hari rilis. Misal hari ini rilis CPI Amerika, tanggal 14 September 2017, rilis sebelumnya 11 Agustus 2017. Berarti kita harus cek kurs USD sejak tanggal 11 Agustus sampai 13 Agustus 2017. 



Terlihat di chart Index USD lebih ke arah melemah sejak 11 Agustus..Asumsi saya adalah dengan melemahnya USD ini akan membuat barang dan jasa Amerika akan turun, turunnya harga barang dan jasa ini tentunya akan menaikkan jumlah permintaan dari konsumen. 



Dan hasil rilis hari ini CPI atau inflasi Amerika dirilis naik...Dengan bisa prediksi hasil rilis sebelum rilis kita bisa manfaatkan trading open posisi 1 menit sebelum rilis jadi kita bisa dapatkan pergerakan harga yang besar alias tidak ketinggalan .

Salam by LabForex


Selasa, 04 Juli 2017

Tingkat Inflasi

Tingkat Inflasi

Japan Inflation Rate

United States Inflation Rate


Inflation Rate atau tingkat inflasi adalah gambaran daya beli konsumen, gambar diatas bisa kita lihat bagaimana tingkat daya beli masyarakat Amerika dan masyarakat Japan. ( Diatas level 0% menunjukkan daya beli yang positif sebaliknya di bawah level 0% menunjukkan daya beli yang rendah sekali). 

Daya beli itu sendiri artinya adalah kemampuan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk kebutuhan hidup sehari hari maupun kebutuhan persiapan jangka panjang.  
Naiknya daya beli konsumen bisa kita asumsikan bahwa ekonomi si konsumen naik alias konsumen punya uang.  
Apakah dampak naiknya daya beli konsumen ? Banyak sekali karena ini putaran rantai ekonomi.  

Contoh, si Paskuali gajinya naik neh 10% dan hari ini gajian, kemudian si Paskuali beli beras tambahan untuk stok sebulan kedepan, kuatir habis gaji untuk traktirin si Miskuali. Paskuali belanja kewarung beli 100 kilo beras untuk stok sebulan tadi, nah karena paskuali belanja ke warung, pihak warung akan punya masukan omset dari pembelian si Paskuali.  Karena adanya omset penjualan beras tadi, pihak warung akan punya uang lakukan belanja isi warungnya lagi. Ada keuntungan yang didapat oleh pihak warung atas penjualan beras tadi. 

Kemudian pihak warung akan lakukan pemesanan beras lagi dari pihak distributor, nah distributor akan dapat omset juga dari orderan dari pihak warung. Kemudian distributor akan menyampaikan ke kilang beras akan adanya permintaan beras, nah pihak kilang beras akan nambah pemasukan dengan adanya order dari distributor tadi. Kemudian pihak kilang padi tadi akan memesan ke petani untuk kebutuhan padi. Nah petani dapat keuntungan juga dengan adanya pemesanan padi dari kilang padi tadi. 

Karena sudah ada pemasukan dari hasil penjualan padi tadi si petani punya uang untuk beli ikan ke pasar. Nah mau kita sambung lagi? Si penjual ikan akan dapat omset lagi yang akhirnya si nelayan nanti dapat uang juga. Jadi kalau kita teruskan akan panjang tanpa henti, semua lini atau sektor akan kena dampaknya, nah maka disebut sebagai rantai ekonomi, rantai yang identik tidak ada ujung dan pangkalnya.  

Bayangkan jika tadi si Paskuali jadi pengangguran, tidak belanja banyak lagi ke warung untuk keperluan beras, bayangkan penurunan omset omset yang akan dialami oleh pihak pihak lain.  
Nah dari itu sebuah negara itu akan selalu mengusahakan daya beli konsumen itu untuk naik terus. Pihak yang ditugaskan untuk mengatasi daya beli ini akan selalu berusaha untuk menjaga daya beli masyarakatnya tetap naik. Dan tentunya sering pihak terkait itu akan keluarkan kebijakan kebijakan agar daya beli itu naik kembali jika sebelumnya turun.  
Setiap negara itu daya belinya akan selalu beda, karena keadaan ekonomi yang beda beda pula sehingga wajar daya beli juga akan berbeda. Daya beli akan ditunjukkan dalam bentuk persentase seperti dua gambar diatas.  

Setiap negara ( biasanya lembaga khusus seperti Bank Central ) akan lakukan kalkulasi perhitungan daya beli masyarakat , tentunya ada rumusnya tentunya mereka akan berpatokan seperti pada keadaan ekonomi, pendapatan rata rata masyarakat dan lain lain.  
Contoh setelah dikalkulasi, dapat hasilnya bahwa daya beli masyakat 2%. Contoh saja angkanya ya, 2% dalam contoh ini adalah gambaran jika daya beli tercapai menandakan ekonomi masyakat dalam keadaan bagus.  

Kemudian jika setelah hasil kalkulasi ternyata daya beli masih di bawah 2% artinya ada masalah, ada yang mempengaruhi daya beli mengapa tidak sampai 2%.  
Apa kira kira yang mempengaruhi daya beli konsumen/masyarakat ? Ada hanyak hal, bisa karena harga yang naik atau turun, bisa juga karena pasokan dari pihak produsen. Dan lain lain.  

Kemudian pihak terkait ( bank central ) akan mencari alasan mengapa harga harga bisa naik ? Contoh karena nilai mata uangnya menguat sehingga harga harga barang pun jadi naik, sementara gaji belum naik, hanya kurs mata uangnya yang naik. Jelas harga barang naik akan pengaruhi permintaan. Awalnya sepeda motor 13 juta sekarang jadi 16 juta. Bakal banyak yang menunda pembelian sepeda motor.  

Nah jika bank central sudah tahu apa alasan kenaikan harga barang maka akan dikeluarkan sebuah kebijakan, jika tadi kenaikan harga harga barang terjadi karena nilai mata uang yang menguat, maka bank central akan cari kebijakan agar mata uangnya melemah dibanding yang ada saat itu.  

Banyak cara untuk melemahkan mata uang tinggal terapkan saja kebijakan longgar seperti turunkan suku bunga atau perbanyak peredaraan uang, dan masih banyak lagi.  
Dengan nantinya melemahnya mata uangnya diharapkan harga barang akan turun lagi dan baya beli akan naik lagi.  

Tapi bagaimana kalau tadi misal dikalkulasikan daya beli itu 2% ternyata naik terus mencapai 4% ? Bukannya kalau daya beli naik terus itu akan bagus juga ? 
Nah walaupun hal itu bagus secara teori tetapi ada contoh ilustrasi, dengan berat badan sekian, dengan tinggi sekian dengan jenis pekerjaan ini itu, maka si Paskuali normalnya makan itu 1,5 piring nasi dan lauk. Bayangkan jika si Paskuali makan sampai 3 piring , apa kelak yang akan terjadi ? 

Jelas kekenyangan atau berlebihan tidak bagus, paskuali yang makan terlalu banyak akan malah sakit perut. Begitu juga dengan daya beli yang sudah terlalu berlebihan, misal Paskuali karena gajinya naik maka tempat nongkrongnya pun agak naik juga, duit keluarnya juga nambah, belanjanya juga naik, beli ini beli itu , pada suatu saat si Paskuali dipecat karena bolos kerja 3 hari berturut turut. Bisakah Paskuali melanjutkan gaya hidupnya sebelumnya? Sudah kredit ini itu, sekarang dipecat tidak bisa nyicil lagi.  

Nah perlu daya beli itu tidak berlebihan juga. Maka menghindari itu, bank central pun ada kebijakan untuk itu, jika tadinya target daya beli nya 2% dan sekarang sudah lewat 2% maka bank central akan cari cara tuk stop daya beli konsumen yang berlebihan itu. Misal dengan naikin harga barang2 agar berkurang yang beli. Bagaimana cara naikin harga barang2 ? Cukup kuatin nilai mata uangnya jadi otomatis harga harga juga naik. Cara kuatin mata uang bagaimana? Cukup terapkan dengan kebijakan ketat, misal naikin suku bunga, kurangin peredaran uang dan lain lain.  

Conclusion : Dari tingkat inflasi suatu negara dan harus membandingkan dengan target capaian inflasinya ( biasanya di publish pihak bank central untuk target inflasi), kita bisa tahu bagaimana daya beli di negara itu dan bagaimana keadaan ekonomi mereka juga. Dengan mengetahui keadaan inflasinya kita bisa perkirakan kebijakan apa yang akan dikeluarkan oleh bank centralnya. Apakah kebijakan ketat atau longgar ? Misal naikin suku bunga atau turunkan suku bunga atau kucurkan stimulus atau tarik stimulus. Dari kebijakan yang dikeluarkan, jelas akan pengaruhi nilai mata uangnya. Itu bisa jadi peluang trading.  

Private Class Fundamental Labforex 

Senin, 26 Juni 2017

Kelas Edukasi Fundamental Gratis Gelombang 3

Kelas Edukasi Fundamental Gratis Gelombang 3

3 Juli 2017..Kelas edukasi Fundamental Gelombang ke 3 akan dimulai lagi...Silahkan daftarkan diri ada... Term & Condition : - Gratis - Tunjukkan Akun XM anda yang ada di bawah Ib www.ditoforex.com ( Deposit Tidak Harus ). - Yang Tidak aktif di kelas akan di kick dari kelas - Mentor ada 3 orang - 5 Siswa terbaik akan dihajar untuk lebih expert lagi.. Pendaftaran bisa lewat Telegram saja ( silahkan download aplikasi telegram anda). Cari di kolom pencarian kata @LabForex kemudian sapa saya..

Senin, 12 Juni 2017

Jumat, 25 November 2016

Apa Saja Rilis Top Impact Fundamental Forex ??

Apa Saja Rilis Top Impact Fundamental Forex ??


Artikel ini juga saya tulis di website Investing.com klik >> Disini

Kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan tampilan halaman http://id.investing.com/economic-calendar/ . atau forexfactory.com, Halaman kalender rilis indikator ekonomi dari banyak negara. Halaman ini menyampaikan informasi kepada kita hasil rilis dari indikator ekonomi yang bisa pengaruhi nilai mata uang sebuah negara. Pelaku pasar melihat hasil rilis kemudian lakukan aksi jual atau beli mata uang sehingga mempengaruhi nilai mata uang.

Pertanyaannya :
1. Apakah semua rilis indikator ekonomi tersebut dijadikan acuan open posisi jual beli oleh para pelaku pasar ? 
2. Apakah semua rilis indikator ekonomi tersebut dampaknya sama besar ?

Untuk menjawab pertanyaan diatas saya jelaskan sedikit, saya buat sebuah ilustrasi, sama seperti makanan, makanan mayoritas akan membuat kita kenyang, tetapi walau kita bisa kenyang apakah semua makanan ini gizi untuk tubuh kita sama ? Samakah gizi makan nasi dibanding makan roti ?

Tentunya tidak sama, gizi makan nasi jauh lebih besar dibanding makan roti walau kedua makanan ini sama sama membuat kita kenyang.

Begitu juga rilis indikator ekonomi sebuah negara, sejatinya semua rilis indikator ekonomi itu berdampak terhadap mata uang, tetapi dampaknya yang berbeda, ada yang besar ada yang sedang bahkan ada yang kecil dampaknya.

Indikator ekonomi yang mana termasuk yang berdampak besar, sedang dan kecil ?

Mungkin anda akan menjawab cukup lihat tanda di website rilis kalender ekonomi, Jika merah ( yang bertanda 3 bintang ) adalah yang berdampak besar, yang berwarna orange ( yang bertanda 2 bintang ) adalah yang berdampak sedang, yang berwarna kuning ( yang bertanda 1 bintang ) adalah yang berdampak kecil.

Mayoritas trader hanya mengetahui sampai itu saja. Dan akhirnya banyak yang terjebak dengan hal tersebut, contoh ada rilis yang bertanda 3 bintang ( yang berwarna merah ) yang dianggap hasil rilisnya mempunyai dampak besar terhadap pergerakan pasar, ternyata setelah rilis pasar tidak bergerak sesuai harapan, pasar seperti tidak merespon hasil rilis indikator ekonomi yang bertanda bintang 3 ( yang berwarna merah ).Market bergerak biasa saja seolah tidak ada rilis indikator ekonomi.  Trader sudah terlanjur open posisi karena rilis tersebut dan akhirnya akan terjebak yang bisa membawa posisi trading kearah rugi.

Apakah ada yang salah dalam pengelompokan dampak rilis indikator ekonomi selama ini ?

Tidak ada yang salah tetapi perubahan waktu bisa mengubah segalanya. Contoh, dulu rilis perumahan dari Amerika Serikat berdampak besar terhadap pasar mata uang, pergerakan pasar besar saat rilis perumahan dari Amerika . Tetapi beberapa tahun terakhir ini rilis perumahan dari Amerika Serikat sudah tidak punya dampak besar lagi terhadap pergerakan pasar mata uang.

Artinya perubahan dampak fundamental terhadap pasar mata uang itu bisa berubah seiring perjalanan waktu. Amerika Serikat saat ini menjadi nomor satu dunia dalam hal ekonomi dan tidak menutup kemungkinan Amerika Serikat akan menjadi nomor dua. Semua bisa berubah.

Untuk saat ini bagaimana perubahan pengelompokan dampak dari rilis indikator ekonomi terhadap pasar mata uang ?

Saya sebagai trader yang mayoritas trading open posisi dengan acuan fundamental ( trader fundamental ) dalam satu tahun terakhir lakukan pengamatan hasil rilis indikator ekonomi ( rilis fundamental ) dan dampaknya di pasar mata uang maka saya lakukan pengelompokan ulang dari pengelompokan yang sudah ada selama ini.

Saya bagi menjadi 3 kelompok :
1. Top Impact
2. Medium Impact
3. Low Impact


1. Top Impact
Rilis Pada kelompok Top Impact:

-      - Rilis dari Bank Central , ( Suku Bunga, Kebijakan Moneter ), Pidato pejabat bank central, isu kebijakan dari bank central. ( Contoh kecil isu kenaikan atau penurunan suku bunga sebuah bank central )
-     -  Isu  tidak terduga menyangkut keamanan, ekonomi, politik.
-      - Gangguan yang sedang terjadi ( tidak isu lagi ) menyangkut keamanan ( rusuh,perang karena banyak hal termasuk karena alasan politik, dan lain lain ), krisis ekonomi, Bencana alam.

2. Medium Impact Rilis indikator ekonomi Seperti :
-     - Rilis GDP Sesi pertama disetiap kwartalnya
-      - Tingkat Tenaga kerja dan tingkat Pengangguran
-      - Trade Balance / Neraca perdagangan
-      - Sektor Manufaktur
-      - Sektor Retail
-      - Sektor Produksi Industri
-      - Hasil Survey
-      - Gaji

3. Low Impact
Diluar rilis top impact dan medium impact saya kelompokkan kedalam Low Impact.


Jadi saya biasanya akan fokus open posisi trading saat rilis dari Top Impact. Saya menjadikan rilis Top Impact sebagai acuan open posisi dalam trading. Karena pergerakan pasar mata uang selalu besar saat rilis dari kelompok Top Impact ini dan juga dampaknya bisa jangka panjang, jadi kita bisa memaksimalkan hasil dalam trading. Arah pergerakan pasar bisa kita baca lebih jauh kedepan.

Saya akan menggunakan hasil rilis yang dikelompok medium impact untuk menganalisa perkiraan kebijakan yang dikeluarkan oleh bank central. Dan ini akan memberikan kita informasi kebijakan apa yang akan diambil oleh pihak bank central.

Contoh, ketika hasil rilis indikator ekonomi sebuah negara dimana GDP menurun secara terus menerus, tingkat pengangguran meningkat, tingkat tenaga kerja menurun, tingkat inflasi rendah, defisit neraca perdagangan, dengan gambaran ini kita sudah punya gambaran bahwa bank central negara tersebut tidak akan menaikkan suku bunga dan cenderung akan menurunkan suku bunga, tentunya kita harus tahu dampak jika suku bunga diturunkan dan dampaknya terhadap mata uang negara tersebut, tentunya melemah. Jika sudah tahu kondisi seperti ini tentunya kita sudah lebih dekat dengan keuntungan dalam trading.

Kesimpulan :
-      - Fokus pada rilis rilis Top Impact
-      - Gunakan hasil rilis Medium Impact dan Low Impact untuk menganalisa perkiraan kebijakan yang akan diambil oleh pihak bank central.
-      - Open posisi hanya pada saat rilis Top Impact
Catatan Saran :
- Pelajari rilis rilis dari bank central dan dampaknya terhadap mata uang.

Jika ada waktu akan saya tulis lagi rilis rilis dari bank central dan dampaknya terhadap mata uang.

Salam by Labforex


Minggu, 20 November 2016

Apa Itu Index USD ?

Apa Itu Index USD ?



Sering disingkat USDX atau DXY atau Index Dolar. Kalau kita trading tentunya tidak heran melihat pasangan mata uang nah bagaimana dengan Index USD ? Apakah USDX ini versus dengan mata uang lain ? 




USDX atau DXY adalah gambaran kekuatan mata uang USD terhadap mata uang 6 negara mayor lainnya. Ke enam mata uang tersebut adalah EURO, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF. 
Atau kata lain USD versus 6 mata uang. 

Perhatikan gambar di bawah ini : 

Ke enam mata uang ini mempunyai bobot yang berbeda dalam index USD ini, bobot ditentukan berdasarkan besar kecilnya pengaruh negara tersebut terhadap perdagangan Amerika. Bobot ini ditetapkan oleh bank central Amerika The Fed. 

Berikut bobot masing masing mata uang :

Euro = 57,6 %
JPY = 13,6 %
GBP = 11,9 %
CAD = 9, 1 % 
SEK = 4,2 % (SEK = Swedish Krona)
CHF = 3,6 %. 

Terlihat bobot Euro lebih besar 57,6 % , hal ini lah yang sering kita lihat jika USD melemah atau menguat pergerakan di pair EURUSD terlihat langsung lebih kuat korelasi negatifnya. ( USDX melemah = EURUSD NAIK dan Sebaliknya )

Rumus USD Index adalah:

USDX(t) = 50.14348112 × EUR/USD (-0.576) × USD/JPY (0.136) × GBP/USD (-0.119) × USD/CAD (0.091) × USD/SEK (0.042) × USD/CHF (0.036)

dimana t adalah nilai USDX dan komponen mata uang pada suatu waktu tertentu.

Apakah USDX ini bisa kita jadikan sebagai acuan untuk melihat kekuatan mata uang USD ? tentunya bisa. Karena USDX menunjukkan kekuatan USD versus 6 mata uang negara mayor. 

Bersambung kapan kapan...

By LabForex
Program Belajar Cepat Kuasai Fundamental Forex

Program Belajar Cepat Kuasai Fundamental Forex


Program Belajar Cepat Kuasai Fundamental Forex

Program belajar secara online selama 1 Pekan , belajar setiap hari.
Media belajar Aplikasi telegram .
Silabus :

- Pengenalan Fundamental ( Pertemuan 1 )

- Mempelajari Semua Item Item yang mempengaruhi Pergerakan Market , semisal data data ekonomi, kebijakan kebijakan bank central, isu yang membentuk sentimen. Materi ini sungguh sangat banyak . ( Pertemuan ke 2 ke 3 dan ke 4 )

- Cara Membaca rilis data, rilis berita , pidato dan rumor ( pertemuan ke 5 )

- Praktek trading berdasarkan fundamental ( Pertemuan ke 6 ). 

Maksimal satu kelas hanya 10 orang. Minimal 5 orang

Setelah selesai proses belajar, konsultasi akan berlanjut sampai akhir desember. 

Biaya belajar Rp. 500.000 ( Lima ratus ribu rupiah )

Hubungi Call/Sms/WA/Telegram 087708183318

Bagi yang belum punya aplikasi telegram akan saya ajarin cara instalasinya.( Mudah )

Contoh Materi Silahkan tonton video di bawah ini 





Jumat, 01 Juli 2016

Risk Appetite Vs Risk Aversion

Risk Appetite Vs Risk Aversion


Dalam perdagangan finansial kita sering mendengar istilah Risk Aversion dan Risk Appetite dalam suatu berita pasar. Pada dasarnya seorang investor sangat menghindari suatu resiko. Selera/pandangan mereka terhadap suatu kondisi pasar sangat mempengaruhi keputusan untuk berinvestasi atau menarik investasinya. Memahami suatu kondisi yang sedang terjadi di pasar adalah suatu hal yang mutlak bagi seorang investor/trader, karena kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada suatu harga/asset
Risk Aversion
Risk aversion adalah suatu kondisi dimana investor sedang mengalami kekuatiran sehingga mereka menarik investasi yang beresiko. Risk aversion bisa disebabkan oleh banyak hal seperti, terjadinya perang, bencana alam, wabah penyakit, kondisi geopolitik, bahkan perubahan kebijakan ekonomi bisa membuat pasar kuatir.
Dalam kondisi ini investor akan menarik asset beresiko seperti saham, mata uang beresiko, reksadana. Kemudian memindahkan investasinya ke asset yang aman seperti dollar, emas, obligasi, dan mata uang aman resiko seperti Yen, Swiss Franc. Aset aman ini disebuat sebagai asset safe haven.
Dalam kondisi ini maka apabila sedang terjadi risk aversion, maka pasar saham dan mata uang seperti GBP, EUR, AUD, NZD, CAD akan melemah. Sebaliknya mata uang dollar, yen, dan swiss franc akan menguat. Emas dan minyak dunia juga akan cenderung kuat apabila risk aversion disebabkan oleh perang, kondisi geopoltik, bencana alam. Namun emas dan minyak akan cenderung lemah jika penyebanya adalah perubahan kebijakan ekonomi secara tiba-tiba. Contohnya adalah keputusan Cina mendepresiasi mata uang yuan di bulan Agustus.

Risk Appetite
Kebalikanya risk appetite adalah suatu kondisi dimana pasar dalam kondisi bagus, sehingga investor berani ber-spekulasi membeli asset yang beresiko. Apabila risk appetite terjadi setelah risk aversion, maka saham dan mata uang yang sudah mengalami penurunan akan kembali diburu karena murah. Sedangkan asset aman yang sudah mengalami banyak kenaikan akan mengalami aksi profit taking sehingga kembali turun.
Apabila pasar pada sedang terjadi risk aversion atau risk appetite, maka harga akan bergerak dalam satu arah dan bisa terjadi berhari-hari

Rabu, 08 Juni 2016

Tujuan Dan Tugas Bank Indonesia

Tujuan Dan Tugas Bank Indonesia

TUJUAN DAN TUGAS BANK INDONESIA

:: Tujuan Tunggal
Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan
tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah
ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa,
serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua
tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.
Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus
dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian,
tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan
mudah.
:: Tiga Pilar Utama
Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yang
merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas tersebut (klik pada gambar
dibawah) perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah
dapat dicapai secara efektif dan efisien


PILAR 1. MENETAPKAN DAN MELAKSANAKAN KEBIJAKAN MONETER
Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Arah kebijakan
didasarkan pada sasaran laju inflasi yang ingin dicapai dengan memperhatikan berbagai
sasaran ekonomi makro lainnya, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun
panjang.
Implementasi kebijakan moneter dilakukan dengan menetapkan suku bunga (BI Rate).
Perkembangan indikator tersebut dikendalikan melalui piranti moneter tidak langsung,
yaitu menggunakan operasi pasar terbuka, penentuan tingkat diskonto, dan penetapan
cadangan wajib minimum bagi perbankan.
Pendekatan pegendalian moneter secara tidak langsung ini telah dilakukan sejak 1983
dengan mekanisme operasional yang disesuaikan dengan dinamika perkembangan
pasar uang di dalam negeri.
:: Operasi Pasar Terbuka
Operasi Pasar Terbuka (OPT) dilaksanakan untuk mempengaruhi likuiditas rupiah di
pasar uang, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat suku bunga. OPT
dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan
Intervensi Rupiah.
Penjualan SBI dilakukan melalui lelang sehingga tingkat diskonto yang terjadi benarbenar mencerminkan kondisi likuiditas pasar uang. Sedangkan kegiatan intervensi
rupiah dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menyesuaikan kondisi pasar uang, baik
likuiditas maupun tingkat suku bunga.

:: Penetapan Cadangan Wajib Minimum
Kebijakan ini mewajibkan setiap bank mencadangkan sejumlah aktiva lancar yang
besarnya adalah persentasi tertentu dari kewajiban segeranya. Saat ini, kebijakan ini
tertuang dalam ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 5% dari dana pihak
ketiga yang diterima bank, yang wajib dipelihara dalam rekening bank yang
bersangkutan di Bank Indonesia.
Apabila Bank Indonesia memandang perlu untuk mengetatkan kebijakan moneter maka
cadangan wajib tersebut dapat ditingkatkan, dan demikian pula sebaliknya.

:: Peran sebagai Lender of The Last Resort
Bank Indonesia juga berfungsi sebagai lender of the last resort. Dalam melaksanakan
fungsi ini, Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan
prinsip syariah kepada bank yang mengalami kesulitan likuiditas jangka pendek yang
disebabkan oleh terjadinya mismatch dalam pengelolaan dana. Pinjaman tersebut
berjangka waktu maksimal 90 hari, dan bank penerima pinjaman wajib menyediakan
agunan yang berkualitas tinggi serta mudah dicairkan dengan nilai sekurang-kurangnya
sama dengan jumlah pinjaman.

:: Kebijakan Nilai Tukar
Nilai tukar yang lazim disebut kurs, mempunyai peran penting dalam rangka tercapainya
stabilitas moneter dan dalam mendukung kegiatan ekonomi. Nilai tukar yang stabil
diperlukan untuk terciptanya iklim yang kondusif bagi peningkatan kegiatan dunia
usaha.
Secara garis besar, sejak tahun 1970, Indonesia telah menerapkan tiga sistem nilai tukar,
yaitu sistem nilai tukar tetap mulai tahun 1970 sampai tahun 1978, sistem nilai tukar
mengambang terkendali sejak tahun 1978, dan sistem nilai tukar mengambang bebas
(free floating exchange rate system) sejak 14 Agustus 1997.
Dengan diberlakukannya sistem yang terakhir ini, nilai tukar rupiah sepenuhnya
ditentukan oleh pasar sehingga kurs yang berlaku adalah benar-benar pencerminan
keseimbangan antara kekuatan penawaran dan permintaan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia pada waktu-waktu tertentu
melakukan sterilisasi di pasar valuta asing, khususnya pada saat terjadi gejolak kurs yang
berlebihan.

:: Pengelolaan Cadangan Devisa
Cadangan devisa merupakan posisi bersih aktiva luar negeri Pemerintah dan bank-bank
devisa, yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi internasional.
Dalam mengelola cadangan devisa ini, Bank Indonesia lebih mengutamakan tercapainya
tujuan likuiditas dan keamanan daripada keuntungan yang tinggi. Walaupun demikian,
Bank Indonesia tetap mempertimbangkan perkembangan yang terjadi di pasar
internasional, sehingga tidak tertutup kemungkinan terjadinya pergeseran dalam
portfolio komposisi jenis penempatan cadangan devisa.
Dalam mengelola cadangan devisa yang optimal, Bank Indonesia menerapkan sistem
diversifikasi, baik berdasarkan jenis valuta asing maupun berdasarkan jenis investasi
surat berharga. Dengan cara tersebut diharapkan penurunan nilai dalam salah satu mata
uang dapat dikompensasi oleh jenis mata uang lainnya atau penempatan lain yang
mempunyai nilai yang lebih baik.

:: Kredit Program
Dengan status Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang independen, pemberian
kredit program yang selama ini dilakukan selanjutnya berada di luar lingkup tugas Bank
Indonesia.
Tugas pemberian kredit program akan dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang ditunjuk Pemerintah. Pengalihan tugas ini dimaksudkan agar Bank
Indonesia dapat lebih memfokuskan perhatian pada pencapaian sasaran-sasaran
moneter serta agar dapat tercipta pembagian tugas yang baik antara Pemerintah dan
Bank Indonesia.

PILAR 2. MENGATUR DAN MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN
Sesuai dengan Undang- Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, salah satu
tugas Bank Indonesia adalah mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Di
bidang sistem pembayaran Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang
berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut,
menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. Disisi lain dalam rangka mengatur dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran Bank Indonesia berwenang melaksanakan,
memberi persetujuan dan perizinan atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran
seperti sistem transfer dana baik yang bersifat real time, sistem kliring maupun sistem
pembayaran lainnya misalnya sistem pembayaran berbasis kartu.
Untuk mewujudkan suatu sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman dan handal,
Bank Indonesia secara terus menerus melakukan pengembangan sesuai dengan acuan
yang ditetapkan yaitu Blue Print Sistem Pembayaran Nasional. Pengembangan tersebut
direalisasikan dalam bentuk kebijakan dan ketentuan yang diarahkan pada pengurangan
risiko pembayaran antar bank dan peningkatan efisiensi pelayanan jasa sistem
pembayaran.
Pada sistem pembayaran non tunai, saat ini penyediaan layanan jasa pembayaran
sebagian besar dilakukan oleh perbankan baik melalui rekening bank di Bank Indonesia,
hubungan bilateral antar bank maupun melalui jaringan internal bank yang dimilikinya.
Layanan pembayaran dana antar nasabah tersebut biasanya dilakukan melalui transfer
elektronik, sistem kliring maupun melalui sistem Bank Indonesia Real Time Gross
Settlement (BI-RTGS). Dari sisi piranti pembayaran, secara historis sistem pembayaran
non tunai di Indonesia didominasi oleh piranti pembayaran berbasis warkat, namun
dalam perkembangannya piranti elektronik mulai banyak berperan terutama sejak
dioperasikannya sistem BI-RTGS pada bulan November untuk penyelesaian transaksi
bernilai besar atau urgent.
Sementara itu dalam kaitannya dengan pengawasan sistem pembayaran, Bank
Indonesia memiliki tanggung jawab agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem
pembayaran yang efisien, cepat, tepat dan aman. Fungsi pengawasan sistem
pembayaran ini selain berwenang untuk memberikan izin operasional terhadap pihak
yang menyelenggarakan kegiatan di bidang sistem pembayaran juga berwenang untuk
melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan sistem pembayaran baik yang
dilakukan oleh Bank Indonesia maupun pihak lain di luar Bank Indonesia.

Stabilitas Sistem Keuangan
DEFINISI STABILITAS SISTEM KEUANGAN
Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) sebenarnya belum memiliki definisi baku yang telah
diterima secara internasional. Oleh karena itu, muncul beberapa definisi mengenai SSK
yang pada intinya mengatakan bahwa suatu sistem keuangan memasuki tahap tidak
stabil pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan menghambat kegiatan
ekonomi. Di bawah ini dikutip beberapa definisi SSK yang diambil dari berbagai sumber:
” Sistem keuangan yang stabil mampu mengalokasikan sumber dana dan menyerap
kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan terhadap kegiatan
sektor riil dan sistem keuangan.”
” Sistem keuangan yang stabil adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap
berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi,
melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik.”
” Stabilitas sistem keuangan adalah suatu kondisi dimana mekanisme ekonomi dalam
penetapan harga, alokasi dana dan pengelolaan risiko berfungsi secara baik dan
mendukung pertumbuhan ekonomi.”
Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan penelitian terhadap
faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor keuangan. Ketidakstabilan
sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. Hal ini
umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik karena faktor struktural
maupun perilaku. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal
(internasional) dan internal (domestik). Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam
sistem keuangan antara lain risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko
operasional.
Meningkatnya kecenderungan globalisasi sektor finansial yang didukung oleh
perkembangan teknologi menyebabkan sistem keuangan menjadi semakin terintegrasi
tanpa jeda waktu dan batas wilayah. Selain itu, inovasi produk keuangan semakin
dinamis dan beragam dengan kompleksitas yang semakin tinggi. Berbagai
perkembangan tersebut selain dapat mengakibatkan sumber-sumber pemicu
ketidakstabilan sistem keuangan meningkat dan semakin beragam, juga dapat
mengakibatkan semakin sulitnya mengatasi ketidakstabilan tersebut.
Identifikasi terhadap sumber ketidakstabilan sistem keuangan umumnya lebih bersifat
forward looking (melihat kedepan). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi
risiko yang akan timbul serta akan mempengaruhi kondisi sistem keuangan mendatang.
Atas dasar hasil identifikasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis sampai seberapa jauh
risiko berpotensi menjadi semakin membahayakan, meluas dan bersifat sistemik
sehingga mampu melumpuhkan perekonomian.


PENTINGNYA STABILITAS SISTEM KEUANGAN
Sistem keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian.
Sebagai bagian dari sistem perekonomian, sistem keuangan berfungsi mengalokasikan
dana dari pihak yang mengalami surplus kepada yang mengalami defisit. Apabila sistem
keuangan tidak stabil dan tidak berfungsi secara efisien, pengalokasian dana tidak akan
berjalan dengan baik sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Pengalaman
menunjukkan, sistem keuangan yang tidak stabil, terlebih lagi jika mengakibatkan
terjadinya krisis, memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk upaya penyelamatannya.
Pelajaran berharga pernah dialami Indonesia ketika terjadi krisis keuangan tahun 1998,
dimana pada waktu itu biaya krisis sangat signifikan. Selain itu, diperlukan waktu yang
lama untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sistem keuangan.
Krisis tahun 1998 ini membuktikan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan aspek
yang sangat penting dalam membentuk dan menjaga perekonomian yang
berkelanjutan. Sistem keuangan yang tidak stabil cenderung rentan terhadap berbagai
gejolak sehingga mengganggu perputaran roda perekonomian.
Secara umum dapat dikatakan bahwa ketidakstabilan sistem keuangan dapat
mengakibatkan timbulnya beberapa kondisi yang tidak menguntungkan seperti:
· Transmisi kebijakan moneter tidak berfungsi secara normal sehingga kebijakan
moneter menjadi tidak efektif.
· Fungsi intermediasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya akibat alokasi dana
yang tidak tepat sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi.
· Ketidakpercayaan publik terhadap sistem keuangan yang umumnya akan diikuti
dengan perilaku panik para investor untuk menarik dananya sehingga mendorong
terjadinya kesulitan likuiditas.
· Sangat tingginya biaya penyelamatan terhadap sistem keuangan apabila terjadi krisis
yang bersifat sistemik.
Atas dasar kondisi di atas, upaya untuk menghindari atau mengurangi risiko
kemungkinan terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan sangatlah diperlukan,
terutama untuk menghindari kerugian yang begitu besar lagi.


REKOMENDASI BROKER KLIK GAMBAR DIBAWAH